Pages

Sep 6, 2014

Walking with Jesus


When we're walking with Jesus, HE will guide you into the light.
It may not always be an easy happy walk,
the light will reveal the dark evil side that's been there gripping us.
It can be a long painful process and we may not even want to let it go.

When we're walking with Jesus, things that were unclear and confusing
and sometimes depressing... started to really make sense.
HE is the way and the light, with Him we will always find our way to the light.

When you're walking with Jesus...
ask HIM to hold your hands and never let go.

John 8:12

Aku pernah mendengar Pdt Agus Marjanto berkata: "ketika berjalan bersama Yesus, sebaiknya bukan kita yang memegang tangan-Nya. Tapi biarkan Tuhan yang memegang tangan kita"

Lalu beliau menjelaskan kurang lebih spt ini: natur manusia adalah berdosa. Keinginan manusia adalah melakukan dosa. Kalau kita yang memegang tangan Tuhan, hati kita akan berontak karena jalan Tuhan adalah bukan jalan yang kita inginkan. Kita pasti akan melepaskan pegangan tangan kita dan lari dari Tuhan. Tapi, kalau kita rela Tuhan yang memegang tangan kita, kita rela dan taat mengikut kemanapun DIa menuntun kita.. walaupun hati kita kadang berontak ingin melepaskan diri, tapi tangan Tuhan selalu cukup kuat untuk membawa kita kembali ke sisi-Nya.

Seperti apa ya berjalan bersama Tuhan Yesus...
Banyak orang mungkin berpikir, berjalan bersama Tuhan adalah enak, sukses, kaya dan berhasil dalam segala hal. Banyak gereja dan hamba Tuhan yang menyodorkan konsep sukses ini, membuat orang datang pada Tuhan karena ingin sukses, ingin kaya, ingin sembuh. Tidak sepenuhnya salah, karena Allah adalah Maha Kuasa dan sanggup melakukannya. Tapi mengikut Tuhan tidak sesederhana itu. Ikut Tuhan lalu mendadak kaya, mendadak sukses, mendadak sembuh. Itu tipuan. Itu ilusi.Tidak ada satu cerita pun dalam Alkitab tentang hal seperti itu, karena mengikut Tuhan adalah pikul salib. Mat 10:38, Mat 16:24

Apakah itu pikul salib?
Memikul salib adalah kondisi kita mengosongkan diri dan membiarkan kehendak Tuhan saja yang jadi (Kenosis). Kelihatannya gampang.... Benarkah? Benarkah membuang seluruh kehendak diri kita dan hanya membiarkan kehendak Tuhan saja yang jadi itu gampang? Kita menghabiskan waktu berjam-jam untuk nonton film seri, dibandingkan membaca buku rohani apalagi membaca Alkitab. Kita memilih jalan ke mall daripada ke seminar Kristen atau bahkan gereja. Kita berbohong, menipu, berkata kasar dan kotor, malas, ngedumel, complain sana sini... setiap hari. Kenyataannya... setiap hari kita memilih melakukan kehendak setan yaitu melakukan dosa dari pada membiarkan kehendak Tuhan yang jadi. Ef: 5: 1-21

Kehendak Tuhan
Banyak buku bagus tentang petunjuk praktis mengetahui kehendak Tuhan. The Road Best Traveled, karangan Ray Pritchard misalnya. Tapi, kehendak Tuhan bukan hanya tentang menentukan pilihan A atau B, maju atau mundur, kanan atau kiri, atas atau bawah, ini atau itu. Bukan sesimpel itu. Buku "Mengetahui Kehendak Allah" karangan Pdt. Dr. Stephen Tong bisa membantu kita mengerti lebih jauh apa sebenarnya kehendak Tuhan.

Aku percaya setiap orang memiliki panggilan / calling sendiri-sendiri. Apa yang Tuhan kehendaki dari setiap kita berbeda-beda berdasarkan keunikan kita masing-masing. Satu hal yang pasti. Tuhan ingin kita berjalan bersama-nya, selalu disisi-Nya menuju sinar kemuliaan dalam Kerajaan-nya yang kekal.

Sekali lagi tentang berjalan bersama Tuhan, menuju TERANG
















Ketika kita mau taat berjalan beriringan dengan Tuhan, mau taat membiarkan Tuhan menuntun tangan kita... Tuhan akan menuntun kita, membawa kita menuju TERANG.

Menurut aku, dalam perjalanan menuju terang ada 3 hal yang akan kita rasakan. Pertama adalah sakit, kedua adalah malu dan ketiga adalah sukacita.

  1. Sakit - coba bayangkan kalau sekian lama mata kita berada dalam gelap, lalu tiba-tiba kita melihat sinar terang, apa yang akan terjadi? sakit mata bukan? Setelah sekian lama kita bergaul dengan dosa di dalam kegelapan, kita akan merasa tidak rela untuk membuangnya. Kita tidak ingin melepasnya. Kita tidak ingin meninggalkannya. Terang akan menyakiti kita karena kita tidak rela berpisah dengan dosa.
  2. Malu - setelah sadar bahwa kita harus meninggalkan dosa didalam kegelapan dan berjalan menuju terang.. kita akan sadar betapa kotor, najis dan rusaknya kita. Kita akan merasa tidak layak berjalan bersama Tuhan yang begitu suci dan mulia di dalam terang.
  3. Sukacita - aku membayangkan Tuhan Yesus memeluk aku yang bau busuk, kotor, najis dan compang-camping karena dosa, lalu memegang tanganku dan menuntunku berjalan sambil berkata lembut: "I love you. come, walk beside Me, stay close to Me all the time, My blood will cleanse you". Jaminan pasti bahwa darah Yesus menyucikan dosa, mengampuni aku dari hukuman mengerikan dan membawa aku ke surga kekal. Adakah hal lain yang melebihi sukacita ini? 

Tuhan tidak menjanjikan kita tidak sakit selama berjalan bersama-Nya. Dan dosa pun akan terus senantiasa mengintip kita dari dalam kegelapan. Dosa menunggu kita kembali kepadanya. Karena kita lemah, dan pada dasarnya kita selalu ingin mencari dosa.. maka biarkan Tuhan saja yang memegang tangan kita sehingga walaupun kita ingin kembali kepada dosa, tangan Tuhan akan terus memimpin langkah kita kembali menuju terang.




Di jalanku ku diiring
Oleh Yesus Tuhanku
Apakah yang kurang lagi jika Dia Panduku
Diberi damai sorgawi asal imanku teguh
Suka duka dipakaiNya untuk kebaikanku 2x

All the way the Savior leads me,
What have I to ask beside
Can I doubt His tender mercy,
Who thro` life has been my Guide
Heav`nly peace, divinest comfort,
Here by faith in Him to dwell
For I know whate`er befall me,
Jesus doeth all things well 2x




  



Jul 22, 2014

Team PangBon KKR Regional Solo - Judulnya "SEMANGAT"


Gereja-ku, GRII Karawaci rutin melakukan penginjilan ke beberapa tempat di Indonesia yang kami sebut KKR Regional. Dan untuk pertama kalinya Tuhan memberikan kesempatan untuk aku ikut serta melayani. Aku tergabung dalam Tim Panggung Boneka dengan tujuan Solo. Tanggal pelayanan 17-19 Juli 2014. Tapi berhubung sedang sibuk planning Q4, aku hanya bisa cuti hari Jumat saja dan berangkat ke Solo hari Kamis malam.

1. SEMANGAT mengejar pesawat
Kirain bisa leha-leha sambil refleksi dan baca buku "Lies Women Believe", ternyata... aku harus masuk pesawat dengan dengkul gemetar. Haha. Bukan karena takut terbang, tapi karena cape ngejar pesawat. Kok pesawat dikejar? Jadi ceritanya...

Hari Kamis itu hujan deras dari siang, sehingga aku memutuskan berangkat lebih awal ke airport. Apalagi aku harus mampir ke gereja di daerah Karawaci untuk mengambil peralatan wireless PangBon yang tertinggal. Dari Karawaci aku berangkat jam 16:00 dan sampai pintu tol Karang Tengah menuju pintu tol JOR arah Pluit/PIK lancaaar. Tapi, 500mt lepas dari pintu tol JOR itu .... langsung stuck. Awalnya masih santai-santai, bahkan aku sempat tidur membiarkan Reza anakku berjuang didalam kemacetan. 30min kemudian waktu membuka mata, aku menoleh ke Reza dan dia bilang "baru jalan kira-kira 200 meter, Mih" Aku lihat jam, belum jam 17:00. Masih aman, pikirku.

Tapi ketika hari makin gelap dan mobil tidak juga beranjak dari tempatnya, aku mulai sedikit panik. Jam 6 kutelpon Lion Air, dan mereka menyarankan aku telpon ke office mereka di airport. Jam 18.30 aku mulai pasrah karena pintu PIK masih sangat jauh dan bbrp orang malah mulai berjalan-jalan di dalam tol. Teman-teman Tim PangBon di group whatsapp pun mulai ikut senewen menerima update menit demi menit parkir di jalan tol.

Mungkin Tuhan tidak mau memakai aku melayani Dia? Aku berdoa: "Ampuni aku kalau ada yang tidak berkenan padaMu, Tuhan". Dan teman-teman di group Whatsapp PangBon memberi kekuatan sekaligus ledekan "kalau mau dipakai Tuhan memang harus melewati ujian dulu, Bu Ema..." Aaah.. ini sih bukan ujian, tapi sport jantung.

20min kemudian, jalan sebelah kanan lancar dan kami tiba di persimpangan Pluit/PIK. Aku lihat jam 18:50. "Tenang Mih... gak sampai 10 min sampai airport" kata Reza. Aku cuma bisa tegang merasakan mobil bagai terbang dan benar, jam 19:00 tepat kami sampai. "Tunggu ya Kak, Mami cek dulu masih boleh cek in atau tidak". Aku segera lari ke check-in area.

Setelah membayar wrapping koper yang aku tandemkan dengan box wireless dari Gereja, aku antri untuk drop bagasi. Dari speaker terdengar.. "last call untuk penumpang Lion Air JTxxx. Kepada Ibu Eka Emajanti segera boarding melalui gate xx." Karena yang cek in tidak antri, aku langsung dilayani, tapi... "Ibu, kami sudah tidak bisa terima koper Ibu. Silakan dibawa saja masuk ke cabin. Ibu harus lari ke Gate, semoga belum di tutup ya Bu.." Aku rasa saat itu, aku bahkan tidak sempat kaget or melongo, tapi langsung menyambar boarding pass, meraih koper dan berlari.

Di ujung pemeriksaan pertama, sudah ada petugas yang menunggu. "Lion ke Solo ya Bu.. ayo cepat-cepat". Dan dia yang berlari lebih cepat dari aku. Di pemeriksaan kedua, sudah ada petugas lain yang menunggu dan segera memimpin aku berlari menuju Gate. Di ujung Gate, sudah ada petugas lain yang menunggu dan kembali dia berlari estafet ke petugas berikutnya... haahaha.. mirip lomba estafet Kancil lawan Kura-kura. Saat itu aku berpikir, kenapa sih mereka tidak menyambut aku dan membantu koper.. tapi malah lari duluan meninggalkan aku. Ternyata, memang mereka melakukan pesan berantai sampai ke petugas dengan alat komunikasi langsung ke pesawat. Aku terus di ajak berlari menuju mobil kecil yang membawaku ke pesawat. Sampai di samping mobil, aku hanya bisa diam mencoba mengatur napas..Aku kan gak pernah olah raga, boro2 lari.. jalan aja males. aahahhaha. "Mas.. mas.. tolong ya naikin koper saya ke mobil, saya sudah tidak sanggup lagi... " waktu aku menoleh ke dia.. dia rupanya juga sama ngos-ngosan nya dengan aku... yaaaaah....... Kirain sudah terlatih mengawal lari penumpang yang telat Mas... :(

Perjalanan Karawaci-Bandara 3 jam ditebus dengan perjalanan Jakarta-Solo yang hanya 50menit saja. Puji Tuhan, ternyata Tuhan ijinkan aku boleh ikut melayani :)

2. SEMANGAT Jokowi
Awalnya gak kepikiran bahwa aku mengunjungi "kampung' Pak Jokowi. Tapi waktu duduk di taxi, aku iseng bertanya: "kita lewat rumah Pak Jokowi enggak, Pak?" Dan supir taxi itu langsung bilang: "Ibu mau saya antar kesana? Saya ini dulu tetangga Ibu nya Pak Jokowi loh Bu. Dulu.. Pak Jokowi itu blablablabla... "

Kota Solo di malam hari terlihat lancar. Dan di siang hari, walaupun jalan nya cenderung kecil/sempit, tapi semua rapi dan bersih. Salut deh Pak Jokowi.

3. SEMANGAT Mencari Batik
Hari Jumat, karena sesi PangBon ada di pagi dan sore.. aku menyempatkan diri mencari toko Batik. Naik becak. Padahal waktu yg ada hanya 1 jam saja. Akhirnya aku harus memohon ke bapak tukang becak untuk "ngebut" karena sudah di telpon untuk segera kembali ke basecamp (MRII Solo). Warning: jangan sekali-kali naik becak kalau lagi buru-buru. no matter how fast you think you can be. tetep aja.... selowww.... hahaha!

Dan besoknya, didorong oleh semangat membeli titipan suami dan teman, aku berjalan kaki ke toko batik di dekat hotel. Hari terakhir, aku juga masih terus hunting batik sambil menyewa 1 taxi untuk membawaku kembali ke airport. Hasilnya... everyone's happy but my husband. Maaf Pih... motif yang kamu suka itu tidak ada ukurannya... dan harganya mahal banget. hihiihii...

4. SEMANGAT Bangun Pagi
Baru dapat konfirmasi setelah di Solo bahwa Tim PangBon selalu harus berangkat subuh. Biasanya jam 4 atau jam 5 sudah berangkat. Kalau informasi ini aku dapat waktu masih di Jakarta.. mungkin pikir-pikir dulu mau ikut KKR atau tidak. hahaha. LOL. kidding. Bangun pagi bukan masalah, yang jadi masalah.. siang nya bisa tidur lagi atau tidak. Dan tentu saja tidak.

5. SEMANGAT Angkut-Pasang-Bongkar-Angkut
Kami melakukannya sendiri. Semua peralatan PangBon, baik itu yang super ringan seperti bonekanya, maupun yang super berat seperti rangka panggung dan soundsystem-nya. Kami juga angkut sendiri dus-dus aqua, dus buku lagi, dan dus-dus lainnya.

Jadi, mobil pangbon harus 2. Satu untuk angkut orang, satu lagi untuk angkut peralatan PangBon. Setiap sampai di tempat, kami harus menurunkan semua peralatan, dan memasangnya. Setelah selesai, kami harus membongkarnya dan mengangkut nya kembali ke mobil. Bayangkan saja kalau dalam 1 hari ada lebih dari 2 sesi PangBon. Kami pun harus memasang karpet dan melipatnya kembali. Belum lagi wajib bersih-bersih tempat sebelum meninggalkannya... Sampai di Jakarta, aku ditanya oleh Guru Sekolah Minggu lainnya: "gimana Bu Ema pelayanan di Solo?" Aku dengan jujur bilang: "cape Bu.." Hahah..


Tim PangBon krucil "semangat" bergaya di atas tiang panggung




















Pasang panggung















Setelah panggung jadi, kami keringetan tapi tetep.. gaya















6. SEMANGAT Beradu Acting
Kalau tidak salah ada 7 sesi PangBon dan aku bersyukur bisa melayani 4 sesi. Sebagai apa? Selain sebagai tukang angkut dan bongkar-pasang, sama seperti yang lain.. aku hanya berperan sebagai Narator, tukang bercerita. Semua tim selalu sangat menjiwai peran masing-masing dan kami bisa bertukar peran anytime dibutuhkan. Tim PangBon yang berangkat hanya 6-7 orang, dibantu 2 anak kecil. Jadi, misalnya Marcus, kalau pagi dia jadi pembawa Firman Tuhan / pengkotbah, sore nya dia bisa jadi Mario, si boneka yang nakal.

Kata mereka yang berperan memegang boneka, boneka2 itu sudah basah kuyup kena keringat mereka. Memainkan boneka di panggung boneka lumayan menyita tenaga. Mereka harus jongkok, kadang duduk sebentar ditambah tangan yang harus terangkat sepanjang waktu. Mungkin saja keringat hasil angkut dan bongkar-pasang belum kering.. sudah harus berkeringat lagi memainkan boneka dalam posisi yang tidak nyaman.

 






























Dan yang terjadi di belakang panggung..

Pak Djunaedy: "kan Papa sudah bilang Paul, nasi liwet kalau di bawa ke Jakarta pasti basi. Lagipula Papa kan baru balik ke Jakarta hari besok malam, masak suruh beli nasi liwet sekarang.."












Pak Ferry: "tolong jangan paksa saya buka sepatu, nanti anak-anak gak konsen mendengar Firman..." hihhii



















Vincent: "waaah.. payah nih Bapak-Bapak, katanya mau main di D (Depan panggung).. eh kok malah di B (Belakang panggung)....












Ibu Ema: "Wonogiri! Wonogiri! Gratis kalau sepanjang perjalanan duduknya seperti saya"












Maklum ya ibu2, jadi memang sudah siap bawa handuk kecil untuk lap keringat. Para Bapak akhirnya setuju next time bawa handuk "good morning" biar mirip tukang becak .. haahhaa





















7. SEMANGAT dan SUKACITA
Satu hal yang aku sungguh belajar dari para pelayan Tuhan di GRII Karawaci, tidak ada seorangpun yang aku kenal, mengeluh tentang beratnya pelayanan, atau cape atau bosan atau hal-hal yang tidak menyenangkan lainnya. Aku yakin banget semua capai, bahkan beberapa orang bahkan tidur hanya sebenar, 1-2 jam saja. Bahkan tim PangBon pun datang ke Solo naik mobil, bukan naik pesawat. Mereka pasti letih sekali.

Bahkan aku dapat informasi baru bahwa seringkali hanya 1 orang pelayan KKR regioanl yang bertugas dalan 1 sesi. Jadi, dia harus menjadi MC dan menjadi Pengkotbah sekaligus.

Kami bisa beristirahat dimana saja.

 

























8. SEMANGAT Mengabarkan Injil
Pada saat melihat anak-anak begitu antusias, mereka begitu haus mendengar Firman, pada saat mereka tunjuk tangan atau pada saat mereka tertawa terpingkal-pingkal karena percakapan para boneka, bahkan ketika ada yg nekat maju ke depan untuk melihat lebih dekat.. semua rasa-rasa yang lain tidak terpikirkan. Hanya ada 1 semangat di hati. Memberikan yang terbaik untuk Tuhan.









Jul 7, 2014

Buku Tanpa Kata












Kuning tandanya Surga
Hitam tandanya Dosa
Merah darah Tuhan Yesus 
yang menghapus dosa
Putih hatiku suci
Hijau aku ingin bertumbuh
jadi anak Tuhan yang baik

Aku belajar buku tanpa kata waktu Paskah beberapa bulan yang lalu. Salah seorang teman guru sekolah minggu, sang maestro kain flannel, hehe.. yang membuat aktifitas buku tanpa kata. Selembar kertas karton HITAM ukuran A6, gambar Salib berwarna MERAH, dengan beberapa garis berkilau warna KUNING terpancar dari salib itu dan seekor domba terbuat dari kapas berwarna PUTIH,  serta rumput dari kertas berwarna HIJAU. Walaupun semua anak-anak antusias menempelkan domba, salib dan pancaran kuning serta rumput hijau di kertas hitam.. ada beberapa hal lucu terjadi.

  • Ada anak yang menggambarkan domba dengan bulu mata lentik. Kita bilang.. Domba yang di korbankan harus jantan, sehat dan tak bercacat.
  • Lalu ada anak yang minta tukar domba karena... dombanya terlalu kurus
  • atau bahkan kami sebagai guru yang dengan hati-hati memilah2 supaya domba dari kapas itu adalah yang terbaik, kalau ada yg sedikit bengkok2 pun kami singkirkan
Lalu aku berjumpa lagi dengan buku tanpa kata di SIL 2014. Kami harus mempersiapkan 400 lebih buku tanpa kata dari kain flannel. Dan dengan tambahan ide "brilliant" dari sang maestro kain flannel kami pun harus menghiasnya dengan pedang dan perisai mini, sesuai tema "More than Conqueror" di ke 400+ buku tanpa kata itu. Masalahnya bukan gak sanggup.. tapi sungguh aktifitas membuatnya membuat hidung gatel, mata pedih dan buram, jempol kapalan, pinggang kaku, kaki semutan, sesak napas dan ... tangan belepotan lem... hahahaha....

Buku tanpa kata dari sang maestro yang tersohor itu. hihihii... didalamnya ada lembaran kain flanel warna kuning, hitam, merah, putih dan hijau. dan bayangkan... buku itu cuma berukuran sekitar 10 cm.





























Kami memberikan buku ini kepada anak-anak SIL 2014 untuk tugas penginjilan. Mereka harus membawa buku ini ke orang2 di sekita mereka dan bercerita tentang Yesus menggunakan buku itu. I really really love the idea. Buku tanpa kata adalah alat yang hebat untuk menceritakan tentang Injil Kristus.

Sejarah buku tanpa kata bisa di baca di wiki

Mungkin mulai sekarang instead of menyukai semua serba pink, aku bisa mulai memakai warna-warni buku tanpa kata dan start telling people about Jesus.